JAKARTA MANGROVE


Hutan bakau 
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpurandan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi
Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika.
Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).
Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.
Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.
Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah sebagai berikut : 
Jenis tanah
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut.
Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. 
Terpaan ombak
Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. 
Penggenangan oleh air pasang
Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.
Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering. 
Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) 
biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata danR. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jeniskendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun(Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). 
Bentuk-bentuk adaptasi.
Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakanvegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.
Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai.
Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyaiakar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.
Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.
Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangievaporasi dari daun. 
Perkembangbiakan
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.
Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.
Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.
Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa(Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.
Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. 
Suksesi hutan bakau
Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser.
Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.
Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas.
Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.
Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.
Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.
Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu. 
Kekayaan flora
Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.
Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies (Noor dkk, 1999).


In Teluk Naga, residents work to save mangrove forests
Multa Fidrus, The Jakarta Post, Tangerang | Jakarta | Sat, February 23 2013, 10:57 AM
HERE 
Residents of Teluk Naga, one of the poorest areas of Tangerang, Banten, are working under a corporate social responsibility (CSR) program to preserve the environment along their coast.
The program, organized by state-owned oil company PT Pertamina and the Environment and Landscape Development Program of Trisakti University, involves the residents of the villages of Muara, Lemo and Tanjung Pasit in planting mangrove seedlings to rehabilitate damaged forests.
Pertamina and Trisakti began the CSR program last year, sending researchers to investigate environmental damage in the area and sending trainers to educate local residents on the importance of environmental protection.
On Thursday, the CSR program launched the Ecowisata Kampung Mangrove, or eco-tourism mangrove village, initiative, in the villages on Thursday.
Under the initiative, residents will take the lead in rehabilitating and preserving their local mangrove forest, according to Arri Gunarsa, the director of Trisakti’s environment and landscape development program.
“The program aims at building the awareness and capability of the coastal residents to mitigate and adapt themselves to the impact of climate change,” Arri said. 
“Since the program started in August, residents have planted 75,000 mangrove seedlings stretching along 82,297 meters of coast along the fish and shrimp farms, riverbanks, roads and all the way down to the beach.”
Arri said that the program had changed the perceptions of residents on the environment, motivating them to work hard to plant mangrove seedlings.
“The residents currently have a supply of 45,000 seedlings ready for planting,” he said.
Meanwhile, Supriyatno, head of Muara village, said he that was excited after Muara was appointed as the model for the eco-tourism site.
“This area will become a new learning center,” he said. “We invite the public to come here to get to know and to closely observe the mangrove forest and the ecosystem.”
During the launch of the initiative on Thursday, dozens of local schoolchildren took part in trash can painting contest and a clean-up program for the beach.
According to the researchers who surveyed the villages, environmental damage along the area’s northern coastline had been uncontrollable, ranging from Teluk Naga to the neighboring district of Sepatan. 
Vast swaths of the mangrove forest along 51 kilometers of the coast of Tangerang have been depleted over the years, putting the residents at increased risk of tsunamis and rising sea levels, according to the researchers.
Erosion has continued to eat away at the land, with the coastline receding by 300 meters. Dozens of hectares of fish and shrimp farms have vanished.
Commenting on the regency’s damaged coastline, Uyus Setia Bakti, the coordinator of Banten Environmental Care Foundation (Yapelh), attributed forest destruction to a lack of commitment from the Banten regency administration for conservation programs.
“These conditions have been exacerbated by the economic activities by locals, such as uncontrolled sand quarrying along the beaches and the illegal chopping down of mangrove trees for commercial purposes,” he told The Jakarta Post.
According to a survey conducted by a local environmental group, the mangrove forests in the villages of Kohod, Keramat, Karang Serang, Margamulia, Tanjung Kait and Tanjung Burung villages have already been destroyed.
“Many of the programs that we previously ran to prevent the mangrove forests from suffering more severe damage appear to have been done in vain because there has been no supports from the local administration,” Uyus said.
While a report from the Tangerang Environmental Management Agency (BPLH) said that mangrove forests covered 10,000 hectares of the regency just a few decades ago, a Yapelh survey conducted in 2011 said that only 2,000 hectares mangrove forests were left in Tangerang. 
However, environmental activists have said that the situation has gone from bad to worse. The forest has since receded to 500 hectares and is wholly situated in an area controlled by state forestry company PT Perhutani.
Uyus thanked Pertamina and Trisakti for the CSR program to educate local residents and to rehabilitate the mangrove forest.
“Many residents did not understand the importance of mangrove forest preservation and converted them into commercial areas, such as fish and shrimp farms,” Uyus said.


Menapaki Hutan Mangrove di Pesisir Jakarta
Hutan Mangrove ini merupakan satu-satunya yang ada di Jakarta.
VIVAlog - Banyak ruang terbuka hijau kini berganti fungsi dan menjadi bangunan yang kokoh. Salah satunya adalah hutan Mangrove. Memang dulu hutan Mangrove tersebar di utara Jakarta. Banyak habitat asli yang bisa kita temukan, namun kini jangan harap bisa melihatnya.
Ternyata hutan mangrove itu masih ada, dan menjadi area konservasi pelestarian mangrove khusus di Utara Jakarta. Adalah Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk. Luasnya sekitar 99.82 hektar. Hutan Mangrove ini merupakan satu-satunya yang ada di Jakarta. | HERE 

'Masih ada' Hutan Mangrove di Jakarta HERE
10,000 Mangroves for a Greener Earth
By Awis Mranani on 12:48 pm March 26, 2013. | HERE 
Once upon a time, a group of young people did an honorable act to promote green culture at some universities in Jakarta. They cleaned up their campuses by doing a very simple action: collecting and throwing trash to the rubbish bin.
From such effortless action, a miracle happened. Stakeholders began to see changes around the campus. Those who saw the clean spaces started smiling. Delighted that their simple act brought a positive vibe, the youngsters felt content and they smiled too.
It was not a fairytale. It was a true story. This group of young people later named themselves Green Smile.
Green Smile is an organization with a vision to prepare a better planet for the next generation. One of their missions is to increase awareness on the importance of planting trees.
On March 16, Green Smile, together with London School of Public Relations, did an amazing activity at Tanjung Pasir village in Tangerang, Banten. The activity, called Mangrovement, is a campaign where a bunch of volunteers planted 10,000 mangroves.
The movement was supported by the locals who taught the volunteers on how to plant trees.
More than one hundred university students joined the Mangrovement that day. I, too, supported the cause, hoping a few mangroves that I planted will help the future generation.
But why mangrove?
There are so many trees we can plant, but this time Green Smile would like to highlight on mangrove planting because there are many off-shore areas that have been dealing with the negative effects of abrasion and sea water intrusion.
In many parts in Indonesia, thousands of hectares of mangrove swamp have been cleared for either plantations or real estate developments.
The locals at Tanjung Pasir village have been dealing with fresh water scarcity for so long. They have to buy fresh water from the city to drink, cook and wash, for the water from their soil has turned into brackish water. Automatically, this affects the local economy.
The 10,000 mangroves give a new hope for the locals. With Mangrovement, the locals, one day, might be able to make use the water from their own soil optimally.
For those who don’t live at Tanjung Pasir, mangroves protect the shore from abrasion and intrusion. They also absorb CO2, which means reducing air pollution.
Having said all that, saving mangroves is an important step toward improving the locals’ welfare and ensuring food security in the area. 

Posted on 25 February 2013. 
What’s not to love about mangrove?
By: Nithin Coca
Did you know there is actually a mangrove plantation in Jakarta? You probably have driven by it many times and not even noticed. It can be found right along the expressway connecting central Jakarta with Soekarno-Hatta International Airport, a tiny bit of greenery and one of Jakarta’s few true protections against Climate Change and flooding. It is a shadow of what once was a vast mangrove forest that covered most of the north coast of Java. Mangroves, which thrive in the mixture of sea and freshwater along coastlines, help maintain sea levels and hold back storm surges, forming a wall against flooding.
I visited it last summer when working for Kehati, the Indonesian Biodiversity Foundation. Rows of carefully plotted and maintained mangroves fill a swampy wetland, small but efficient. Each Mangrove is planted as the result of a donation, cared for by a non-profit that runs the centre. They also work to educate local children about the benefits of nature and the environment.
Jakarta needs mangroves, as a city in a delta-basin, one that, under natural conditions, is often inundated. Today, the bulging megacity, with its strained infrastructure and depleted environment, is so susceptible to flooding that there have even been calls for moving the capital to another province. The shut-down we saw this past January 17th is only the latest example of what will likely be a more regular occurrence if things do not dramatically change.
The fact is, Indonesia is incredibly vulnerable to climate shifts. Already Climate Change is making a small, but noticeable impact through more intense rainfalls across the archipelago. As temperatures rise in the coming years, it is predicted that the rainy season will shrink, leading to shorter but more substantial downpours, while the dry season will become longer and more desiccant. In fact, the seasonal Monsoon’s onset may be delayed by as much as 30 days. This means harder soils with less absorptive capacity, and greater runoff, leading to higher and more frequent flood risk.
There is also the threat of more intense, and potentially more frequent, El Nino events. El Nino is a normal, periodic warming of waters off the coast of Peru which affects global weather patterns. In Indonesia, this usually means drought conditions. You may remember the last strong El Nino, in 1997-98, the same years that rampant fires decimated Sumatra and Kalimantan, leaving an estimated $9 billion in economic losses and the harmful smog that blanketed Southeast Asia.

Warmer temperatures also mean higher sea levels. Just a one metre increase – well within consensus scientific projections – will mean that 405,000 hectares of land with be flooded in Indonesia, especially in low-lying, densely populated north Java. Jakarta is especially at risk because nearly 40% of the city lies below sea level. Sea water intrusion also can harm freshwater supplies and pollute groundwater. Moreover, ocean temperatures will be higher, which is harmful for corals and their dependent fisheries, a major source of food and livelihood for Indonesians. Warmer water also means stronger cyclones, such as the ones which have recently affected Bali.
The economic effects of all this will be huge. A detailed study from the International Food Policy Institute says that Climate Change will have significant negative impacts on the Indonesian economy by 2030, especially in the agricultural and fishing sectors. There is an environmental justice angle to the situation, as it is the poor who live in low-lying, flood prone regions, and who are more dependent on agriculture for income. It is they who will suffer the most, acerbating income inequality.
So what can Indonesia do? The Government has developed several adaptation plans, which outline general goals, but, as the flooding showed, little concrete action has been taken. Now is the time to implement those plans. Stated environmental actions include restoring mangrove forests along the coast, increasing forest cover around Jakarta, which would reduce water run-off, lessening the strain on the city’s infrastructure.
Indonesia also needs to take action to mitigate emissions. Few realize that Indonesia is the world’s third largest emitter of greenhouse gases behind China and the United States. However, unlike both those countries, whose main sources of emissions are the energy and agricultural sectors, here 85% of emissions come from deforestation and land-use change.
There needs to be strong global action on greenhouse gases, and Indonesia, as one of the largest polluters, needs to take a more active global role and reduce its own forest emissions. The chief drivers are palm oil plantations, whose short term financial gains are greatly outweighed by the long term costs of fire, biodiversity loss, and Climate Change. One relatively easy step that can be taken is promoting more sustainable, multi-specied, dispersed palm oil plantations versus existing single-species plantations, which remove water from the soil and make fires more likely. Enforcement, of course, will be key.
Unfortunately, things are still moving in the wrong direction. I recently learned that the proposed rail line to the airport will cut right through the mangrove plantation I visited. The question now is, have the recent floods created the impetus for Indonesia to change its urban development policies, restore watersheds and adapt to Climate Change? Or will we have to wait for another more devastating, and potentially catastrophic, flood to force us into action?

Kemangteer Jakarta Komunitas Peduli Mangrove


Indonesia adalah negara kepulauan. Salah satu cara melindungi pulau-pulau itu adalah dengan cara menanam mangrove. Tanaman itu bisa melindungi pulau-pulau dari berbagai masalah yang sering terjadi. Kemangteer Jakarta adalah salah satu komunitas yang peduli akan keberlangsungan mangrove di negeri ini.
Mangrove atau sering dikenal sebagai hutan bakau adalah tanaman yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai. Fungsi tanaman ini sangat banyak, salah satunya melindungi daratan dari gempuran gelombang air laut.
Tanaman mangrove tersebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau Indonesia yang 2,5 hingga 4,5 hektare menjadikannya hutan mangrove terluas di dunia, melebihi Brasil yang 1,3 juta hektare dan Nigeria 1,1 juta hektare. Kepedulian pada keberlangsungan pantai-pantai di Indonesia membuat Ilham Dewantoro tergerak untuk membentuk Kemangteer Jakarta.
"Awalnya anggota kita hanya tujuh orang. Kita bertemu di jejaring sosial. Dari situ kita sering bertukar informasi tentang mangrove dan mulai mencari tahu komunitas mangrove yang ada di Indonesia. Ketemulah Komunitas Mangrove Indonesia yang ada di Semarang, yaitu Kesemat," tutur Ilham. 
Kemangteer merupakan singakatan dari Kesemat Mangrove Volunteer. Komunitas ini merupakan wadah bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap mangrove. Tak salah jika komunitas ini diisi dengan anak-anak muda dari berbagai universitas dan pelajar sekolah di Jakarta yang peduli pada keberlangsungan hutan mangrove di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta.
"Nama Kemangteer diambil dari beberapa nama. Kesemat sendiri adalah nama induk organisanya. Kesemat singkatan dari Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur. Kesemat merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Jakarta adalah cabang pertama untuk komunitas Kesemat Indonesia," ujar Ilham.
Kesemat sudah ada sejak 2001, tapi hanya beranggotakan mahasiwa UNDIP. Karena banyaknya pencinta mangrove di luar kampus Undip, dibentuklah Komunitas Kemangteer di Semarang yang dibuka untuk umum sehingga komunitas ini terbuka untuk semua kalangan, baik tua maupun muda.
"Saat ini, komunitas Kemangteer baru ada di tiga kota, yakni Semarang, Jakarta, dan Malang. Untuk Jakarta, Kemangteer resmi dibentuk pada 17 September 2011, lalu disusul oleh Malang pada Januari lalu, dan berharap kepedulian mangrove ini ada di kota-kota lainnya," tutur Ilham.
Saat ini, Kemangteer Jakarta beranggotakan 24 orang yang terdiri dari beberapa mahasiswa dari unversitas di Jakarta dan pelajar SMA. Setiap dua minggu sekali komunitas ini mengadakan pertemuan rutin untuk membahas program kerja untuk penanaman mangrove di pantai yang ada di Jakarta.
Kemangteer adalah satu-satunya komunitas penyelamat mangrove yang ada di Jakarta. Komunitas ini sangat mengandalkan jejaring sosial untuk menyosialisakan kegiatan dan tentunya juga mencari anggota baru.
"Dulu, sebelum terbentuknya komunitas ini, kita hanya komunikasi via Twitter. Lalu kita putuskan untuk kopi darat. Melalui kopi darat itu, terbentuklah Komunitas Kemangteer Jakarta. Jejaring sosial sangat membantu, dan dalam waktu dekat ini kita juga akan membuka open recruitment untuk anggota baru," terang Ilham. "Organisasi kita tidak ada kaitan dengan pemerintah. Jadi, sampai saat ini, kita belum bisa melakukan hal yang besar. Kita hanya bisa sedikit berkontribusi untuk negeri ini." 
Kegiatan rutin Kemangteer Jakarta adalah mengunjugi ekowisata tol Sedyatmo yang terletak di Jakarta Utara. Lokasi itu dipilih karena tempatnya paling ekonomis. Selain tiket masuknya yang murah, lokasi ini paling mudah dijangkau.
"Saat ini, kegitan rutin komunitas Kemangteer adalah menanam mangrove di pulau-pulau yang ada di Jakarta. Bibit mangrovenya kita beli pakai uang saku sendiri. Kalau di Jakarta, bibit mangrove dijual dengan harga 10 ribu rupiah, tapi kalau di Kepulauan Seribu bibit mangrove hanya 3 ribu rupiah. Ini salah satu bukti jika mangrove di Jakarta masih jadi komoditas yang dikomersialisasikan," jelas Ilham.

Fungsi Mangrove 
Mangrove adalah tanaman yang sangat unik. Berbeda dengan hutan-hutan lainnya, hutan ini ada di pesisir laut. Selain itu, fungsi mangrove benar-benar unik dan berbeda dengan tanaman lainnya. 
"Fungsi dari mangrove sangat banyak, seperti keadaan pulau akan tetap terjaga karena jika tidak ditanami mangrove beberapa tahun ke depan pulau akan semakin kecil. Mangrove tidak hanya untuk melindungi, tapi buah dari tumbuhan ini juga bisa diolah menjadi makanan rempeyek dan bolu. Batangnya dan buahnya bisa dijadikan sebagai bahan baku pewarna batik," jelas Ilham.
Untuk tetap melindungi mangrove, komunitas ini hanya menggunakan buah mangrove yang sudah jatuh untuk diolah sebagai pewarna batik. Produk pewarna ini pernah diperkenalkan di acara WWF ke-50 tahun yang diadakan di Taman Ismail Marzuki beberapa bulan lalu.
Untuk makanan, komunitas ini masih tetap berusaha mendiskusikannya lebih lanjut karena memang ada beberapa buah yang bisa diambil untuk diolah. Tetapi tentu saja tujuan utama komunitas ini adalah menjaga keberlangsungan hidup mangrove.
"Ada kekhawatiran jika sudah banyak mengetahui kegunaan dari mangrove nanti, akan banyak orang yang akan menebang mangrove," keluh Ilham.
Mangrove memiliki banyak fungsi, salah satunya yang paling penting adalah sebagai pemecah gelombang dan menahan badai/gelombang tsunami. Mangrove dapat mencegah masuknya air laut ke daratan. Mangrove juga berperan penting terhadap penyerapan karbon yang dapat memengaruhi perubahan iklim atau pemanasan global, sebagai bahan industri, obat, juga tempat berkembang biak berbagai organisme (ikan, kerang, kepiting, dan udang).
Kegiatan Selamatkan Pantai (Judul Sendiri)
Kemangteer Jakarta saat ini bekerja sama dengan Bank Jawa Barat (BJB) untuk melakukan program rehabilitasi mangrove di Kepulauan Seribu. Kerja sama itu dilakukan sejak akhir Desember 2012 hingga awal 2013. 
"Beberapa waktu ke depan, Kemangteer Jakarta akan sibuk mangroving, bertemu dengan warga pesisir di Kepulauan Seribu, untuk melaksanakan proyek rehabilitasi mangrove di sana. Tak hanya menanam, kita juga akan melakukan sosialisasi, penyuluhan, dan pemeliharaan mangrove supaya mangrove di beberapa titik di pesisir Jakarta bisa pulih kembali," jelas ilham.
"Rencananya, kita akan menanam mangrove sebanyak delapan ribu, empat ribu di Pulau Bira Besar dan empat ribu lagi di Pulau Harapan. Ini adalah penemanan mangrove terbanyak yang pernah dilakukan Kemangteer Jakarta," tambah dia. 
Pada 28 Oktober 2012 lalu, Kemangteer Jakarta menghadiri kegiatan penanaman di Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Untung Jawa. Kegiatan itu dihadiri oleh ratusan siswa setempat dan Kelompok Tani Mangrove Pulau Untung Jawa. Melalui acara ini, diharapkan nantinya bibit yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik, dapat membantu memulihkan ekosistem mangrove yang sebelumnya rusak. Tidak hanya menanam mangrove, tapi komunitas ini juga memantau tumbuhnya mangrove yang telah ditanam. 
"Komunitas kita tidak hanya menanam, tapi kita juga memantau pertumbuhan mangrove. Kita juga melakukan controlling karena banyak hama yang bisa merusak bibit-bibit mangrove, seperti keong sawah, kepiting, dan sampah-sampah yang bisa mengganggu tumbuhnya mangrove," ujar Ilham.

Pertumbuhan mangrove sangat lambat. Tumbuhan ini bisa mencapai tinggi hingga 3 meter dan membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk bisa mencapai tinggi maksimal. Oleh karena itu, Kemangteer Jakarta akan memantau pertumbuhannya selama satu atau dua tahun ke depan, setelah bibit mangrove yang tingginya 30 cm ini ditanam.
Pada akhir 2012, satu acara yang diberi nama September (Seru-seruan pelihara dan tanam bersama) Kemangteer Jakarta juga sukses digelar. Acara yang diadakan di Pulau Pari, Pulau Seribu, itu dilakukan secara sukarela dengan dana swadaya demi kembalinya ekosistem mangrove Indonesia yang kerusakannya sudah sangat akut, mencapai 75 persen. 
Beragam kegiatan yang rutin dilakukan Kemangteer Jakarta adalah kampanye atraktif, aktif, dan nyata, melalui media sosial, on air di radio, menghadiri seminar nasional, kolaborAKSI dengan bermacam komunitas, longmars di Bundaran HI, hingga turun langsung melakukan Ketapel (kegiatan tanam pelihara) Mangrove di Muara Angke, Jakarta Utara, dan kawasan Pulau Seribu. ria/R-5

Share on Google Plus

About Octa Dandy Saiyar

Kelahiran Jakarta keturunan asli Bukittinggi, Sumatera Barat .
07 Oktober 1983.



    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Twitter Feed