BANJIR JAKARTA

Sebuah banjir  
adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. 
Ukuran danau atau badan air terus berubah-ubah sesuai perubahan curah hujan dan pencairan salju musiman, namun banjir yang terjadi tidak besar kecuali jika air mencapai daerah yang dimanfaatkan manusia seperti desa, kota, dan permukiman lain.

Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.
Banjir Jakarta 2013
Banjir Jakarta 2013 adalah bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada pertengahan Januari 2013 yang menyebabkan Jakarta dinyatakan dalam keadaan darurat. Banjir ini sebenarnya sudah dimulai sejakDesember 2012, dan baru mencapai puncaknya pada Januari 2013.


Penyebab
Selain curah hujan yang tinggi sejak Desember 2012, sistem drainase yang buruk, dan jebolnya berbagai tanggul di wilayah Jakarta, banjir ini juga disebabkan meningkatnya volume 13 sungai yang melintasi Jakarta. Tercatat Bogor , Bekasi, Depok, dan Tangerang  juga mengalami hal yang sama pada masa ini. 
Curah hujan
Hingga pertengahan Januari 2013, Jakarta tercatat mencapai rekor curah hujan hingga 250-300mm, melebihi kondisi Banjir Jakarta 2002 yang mencapai 200mm, namun masih di bawah kondisi Banjir Jakarta 2007 yang mencapai 340mm. 
Kepala BPPT, Tri Handoko Seto, menyatakan bahwa gelombang atmosfer, angin muson, dan osilasi diurnal menyebabkan tingginya curah hujan ini. Massa udara dari laut China selatan dan India bergerak ke selatan menuju pusat tekanan rendah di Australia. Massa udara ini kemudian mengalami pembelokan di sekitar Jakarta, akibat tekanan rendah di Samudera Indonesia, di sebelah barat daya Jakarta. 
Masalah drainase
Tingginya curah hujan di kawasan bisnis MH Thamrin membuat jalanan tergenang pada tanggal 22 Desember, mulai dari Sarinah, Sabang hingga Monumen Nasional. 
Kepala Dinas PU DKI Jakarta, Ery Basworo, menyatakan tingginya curah hujan sebagai penyebab buruknya genangan dan menyangkal adanya masalah drainase dan sampah. Buruknya genangan disebabkan pompa yang telah disediakan tidak mampu mengimbangi tingginya aliran air yang hendak dipindahkan ke Kanal Banjir Barat. 
Namun pendapat ini dibantah oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Menteri Djoko Kirmanto, yang menegaskan masalah sampah yang menyumbat drainase dan menghalangi aliran air menuju pompa yang telah terpasang. Kementerian Pekerjaan Umum juga menjanjikan alokasi dana hingga 18 Triliun rupiah untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta. 
Hal ini diperkuat lagi oleh fakta bahwa gorong-gorong di sekitar wilayah tersebut yang ternyata hanya berukuran 60 sentimeter, dan belum pernah dibangun lagi semenjak tahun 1970an. Inisiatif Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo untuk memeriksa drainase di Jalan MH Thamrin, membuat hal tersebut terungkap kepada publik dan akhirnya memunculkan ide untuk membangun Smart Tunnel untuk membantu mempercepat mengalirnya air ke laut. 
Kerusakan tanggul
Sejak akhir tahun, telah terjadi beberapa kerusakan tanggul, dimulai dari tanggul di Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, pada tanggal 13 Desember 2012. Kerusakan tanggul ini menyebabkan 500 rumah warga terendam air laut, serta dua warga hanyut. Akhirnya ratusan gubuk liar dibongkar untuk mempermudah masuknya alat berat guna memperbaiki tanggul. Lurah Pluit menjelaskan hempasan air laut pasang yang menggerus tanggul yang menyebabkan kerusakan ini. 
Musibah kembali menyusul pada tanggal 20 Desember 2012, dengan jebolnya tanggul di Kali Cipinang. Akibatnya 979 warga terpaksa mengungsi ke GOR Makassar serta Jalan Pusdiklat Depnaker dan Jalan Masjid Suprapto tergenang, menutupi akses warga Pinang Ranti menuju Halim. Diketahui buruknya konstruksi tanggul yang tidak menggunakan rangka menyebabkan rusaknya tanggul ini. 
Tanggul Kali Laya, Pekayon, Jakarta Timur, menyusul pada tanggal 24 Desember 2012, sehingga air merendam pemukiman sekitarnya. Dinding sungai yang mengalami kerusakan memiliki tinggi dua meter. 
Pada Tanggal 15 Januari 2013, menyusul tanggul di Kedoya Selatan, Kebun Jeruk, jebol dan menyebabkan banjir setinggi dua meter. Tanggul ini juga tercatat memiliki konstruksi buruk karena hanya dibuat dari karung pasir, sehingga tidak kuat menahan air Kali Pesanggrahan. Warga diungsikan ke bagian timur rel Pesing, namun kebanyakan bertahan di rumah masing-masing. 
Pada tanggal 17 Januari 2013, tanggul Kanal Banjir Barat, di daerah Latuharhari juga jebol dan menyebabkan terendamnya kawasan perumahan mewah di Menteng dan berbagai kawasan bisnis di pusat kota. Perbaikan segera dilakukan namun terhambat arus lalu lintas. 
Dampak
Menurut perkiraan Gubernur DKI Jakarta, banjir ini telah menyebabkan kerugian hingga Rp 20 Triliun. Sementara pengusaha, melalui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya kerugian ekonomi lebih dari Rp 1 Triliun. Selain itu Rp 1 Miliar harus dikeluarkan untuk menyiapkan kebutuhan pengungsi. Perusahaan Listrik Negara juga memiliki taksiran kerugian 116 Miliar akibat terganggunya fungsi pembangkit dan peralatan distribusi dan transmisi yang mengalami kerusakan akibat tergenang air. 
Selain secara ekonomi, banjir juga menelan 20 korban jiwa dan 33.500 orang terpaksa mengungsi. 
Korban
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah resmi korban yang tercatat selama banjir Jakarta 2013, pada tanggal 18 Januari 2013, adalah 12 orang, dengan rincian 5 orang karena disetrum listrik, 2 orang karena kedinginan, 2 orang karena terpeleset atau jatuh, 1 orang karena hanyut, 1 orang karena usia lanjut, dan 1 orang sudah ditemukan meninggal di rumah. Data ini diperbaharui kembali pada tanggal 22 Januari menjadi 20 korban jiwa, dan 33.502 orang terpaksa mengungsi. 
Terendamnya Gedung UOB
Jebolnya tanggul latuharhari menyebabkan air mengalir deras hingga ke Bundaran HI. Lantai bawah tanah dari Gedung UOB yang memiliki ketinggian lantai dasar hampir sama dengan jalan dalam sekejap terendam. Selama proses pengeringan, ditemukan korban 2 orang meninggal, dan 2 lainnya dalam kondisi lemas dan kaku karena terendam air dalam waktu yang lama. Selain itu ditemukan setidaknya 47 mobil terendam di lantai basement 1 dan 2. 
Penanggulangan
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi selama banjir, antara lain dengan memperbaiki tanggul, pendirian posko bantuan di titik-titik yang terkena banjir, relokasi pengungsi ke rumah susun, hingga pengumuman status darurat banjir. 
Relokasi pengungsi Waduk Pluit
Pada tanggal 18 Januari, menyusul jebolnya tanggul latuharhari, daerah Pluit ikut terendam. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menawarkan relokasi kepada penghuni rumah liar di sekitar Waduk Pluit untuk pindah ke rumah susun yang diberikan fasilitas sangat lengkap, dengan alasan mengurangi dampak banjir di masa depan dan memungkinkan peralatan berat bekerja untuk mengeruk waduk. 
Modifikasi cuaca.
Setelah adanya permintaan dari DKI Jakarta, mulai tanggal 26 Januari hingga 25 Maret 2013, BPPT dan BNPB melakukan upaya modifikasi cuaca, dengan cara mencegah pembentukan awan dan menurunkan hujan di luar wilayah rawan banjir. Untuk kerjasama ini, BNPB mengeluarkan biaya hingga Rp 13 Miliar. Proyek serupa pernah sukses dijalankan di SEA Games Palembang dan PON 18 Riau. 
Pengendalian cuaca dilakukan dengan mengerahkan 1 Hercules C-130 dan 3 peswat CASA 212-200 untuk mempercepat awan menjadi hujan. Sedangkan untuk menghambat pertumbuhan awan dipasang 25 titik GBG (Ground Based Generator) yang membakar flare berisi bahan higroskopis (NaCl). Proyek ini juga didukung 3 radar hujan dan 6 stasiun pos meteorologi. 
Keadaan darurat banjir
Pada tanggal 17 Januari 2013, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengumumkan status darurat banjir untuk Jakarta setelah jatuhnya 5 korban jiwa dan 15.447 warga terpaksa mengungsi. Pada saat itu, BNPB mencatat banjir telah menggenangi 500 RT, 203 RW di 44 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan.



JAKARTA, KOMPAS.com — 
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta telah merilis update terbaru peta sebaran banjir, Jumat (18/1/2013). Peta titik-titik banjir di Jakarta tersebut tercatat di-update hari ini pada pukul dua belas siang. 
Dari pembaruan tersebut, terlihat banjir telah meluas. Sebagai contoh, daerah Pademangan, Jakarta Utara, yang dari rilis sebelumnya belum terlihat tergenang air, kini sudah tercantum terdapat genangan air (di peta ini ditandai dengan warna biru). 
Peta dengan ukuran besar dapat diakses di tautan ini
(Update: BPDB telah memperbarui peta banjir Jakarta hasil pantauan hingga 19 Januari pukul 6 pagi. Petanya dapat diakses dari tautan ini)
Selain BPBD, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah merilis peta sebaran banjir. Peta tersebut dapat diakses di tautan ini.
Selain itu, Google juga telah membuat sebuah laman khusus untuk mengetahui daerah mana saja yang terkena dampak banjir, berikut informasi perkiraan ketinggian air di lokasi yang bersangkutan (ditandai juga dengan pointer berwarna biru). Google menamakan laman ini dengan Google Crisis Response.
Laman tersebut juga memuat nomor telepon hotline BNPB, informasi keadaan lalu lintas di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota, serta beberapa resource lainnya.


Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download. | HERE 

JAKARTA, KOMPAS.com —  
Curah hujan tinggi sejak beberapa hari lalu berujung pada banjir di sejumlah wilayah di DKI Jakarta. 
Sebagai informasi untuk masyarakat mengenai daerah mana saja yang terkena dampak di ibukota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Provinsi DKI Jakarta telah merilis peta sebaran banjir. 
Peta dengan ukuran besar dapat diakses di tautan ini. Adapun peta dengan wilayah cakupan banjir yang dibagi berdasarkan rukun warga (RW) dapat diakses di tautan ini
(Update: BPDB telah memperbarui peta banjir Jakarta dari hasil pantauan hingga Jumat, (18/1/2013) pukul 12 siang, informasi lengkapnya dapat dibaca dari tautan ini
Selain itu, untuk memantau keadaan, khususnya di jalan-jalan utama, pengguna internet bisa memanfaatkan layanan Google Maps yang menyediakan informasi titik-titik banjir di Jakarta. 
Baca juga:
HERE |  HERE 
Peta Genangan Banjir Jakarta 19-01-2013 06.00 WIB
Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download. 
Detail: | HERE



PETA PERSEBARAN KALI, SUNGAI, WADUK dan SITU



PENGENDALIAN BANJIR

  • Kondisi Objektif Propinsi DKI Jakarta
  • Luas Jakarta 65.000 Ha;
  • 40 % (24.000 Ha) daratan rendah dibawah muka laut pasang 1 s/d 1.5 m;
  • Dari 40 % tersebut yang sudaj dilayani dewngan sistem Polder baru 11.500 Ha;
  • Daerah tangkapan hujan yang mempengaruhi Jakarta meliputi Bopunjur dengan luas 85.000 Ha;
  • Air dari hulu mengalir melalui 13 sungai/kali menuju laut melewati Jakarta; 
Sebagian ruas Ciliwung telah di-revitalisasi, namun beberapa kali dan ruas kali belum dinormalisasi seperti kali Grogol, kali Krukut, kali Sunter bahkan pada bantaran kali dijadikan tempat hunian(bangunan liar) sehingga terjadi penyempitan penampungan; 
Water ratio wilayah Prop.DKI Jakarta baru mencapai 2,41 % ( target 2010: 4,92 % );
Pembangunan dan perubahan tataguna lahan di Bopunjur dan Jabodetabek yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penambahan debit air sungai melampaui kapasitas maksimumnya ( menambah run-off air );
Akibat ekploitasi air tanah dalam yang berlebihan dan beban bangunan bertingkat menyebabkan terjadinya penurunan tanah (land subsidence), yang menambah daerah rawan banjir.
  • Ancaman Banjir
  • Arah Selatan: Kerusakan Lingkungan di Daerah Hulu Sungai
  • Arah Utara: Pasang Laut
  • Arah Atas: Curah hujan Tinggi
  • Arah Bawah:
  • Kondisi Topografi Jakarta
  • 40 % Berupa Dataran Rendah (1 – 1,5 m) dibawah muka laut pasang
  • Muara 13 Sungai
  • Penduduk Jakarta yang padat
  • Perubahan Fungsi Lahan
  • Penurunan Tanah (Land Subsidence)
  • Daerah Aliran Sungai Jabodetabek

April 4, 2012
Penduduk Jakarta, Antara Daya Tampung dan Target
Posted on  by fitriindrawardhono
Hari-hari ini Jakarta tengah digempur oleh banjir, yang menurut beberapa pihak merupakan banjir yang terjadi akibat siklus curah hujan 5 tahunan. Sudah menjadi pengalaman sejak 1997, 2002, dan 2007 adanya beberapa lokasi yang menjadi langganan banjir. Dan di lokasi-lokasi inilah bermukim penduduk berikut segala aktivitasnya. 
Sementara itu, RTRW DKI Jakarta menargetkan jumlah penduduk untuk tahun 2030 sebesar 12.500.000 jiwa. Penduduk sebanyak inilah yang sebagian diantaranya akan bermukim di lokasi-lokasi yang sebagian diantaranya merupakan lokasi langganan banjir. 
  • Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa ada penduduk yang bermukim di lokasi langganan banjir ? 
  • Bagaimana dengan aspek  kesesuaian lahan permukimannya ?
Sedari awal Jakarta memang telah berkembang tanpa dilandasi oleh pertimbangan kesesuaian lahan. Bagaimana bisa melandaskannya pada pertimbangan kesesuaian lahan, mengingat cikal bakal Jakarta tumbuh di Teluk Jakarta pada awal abad ke-15. Sementara itu, pedoman untuk kajian kesesuaian lahan dari Departemen PU baru keluar pada tahun 2007 berupa Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang. Pedoman ini, khususnya untuk aspek fisik merupakan titik tolak bagi kajian daya-dukung lingkungan kota. Bagi wilayah kota atau perkotaan, sumberdaya alam yang paling relevan berfungsi sebagai batasan adalah ketersediaan lahan. Jakarta telah tumbuh dan berkembang menurut proses okupasi dan invasi kawasan terbangun yang tidak selalu selaras dengan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan dan konservasi sumberdaya alam. 
Dalam konteks pembangunan Jakarta, faktor-faktor yang mempengaruhi daya-dukung lingkungan meliputi : 
(1) keamanan lahan darat dari bahaya genangan oleh pasang laut, 
(2) keamanan lahan darat dari kerusakan badan air sungai, 
(3) keamanan lahan darat dari kerawanan genangan oleh curah hujan dan aliran permukaan, dan 
(4) kelayakan lahan untuk hunian dan kegiatan perkotaan 
Untuk faktor pertama : keamanan lahan darat dari bahaya genangan oleh pasang laut, hal ini dikaitkan dengan kondisi wilayah Jakarta, yang sebagian besar merupakan dataran rendah yang berada di bawah muka laut pasang, sehingga secara periodik akan mengalami genangan jika pasang laut berlangsung dalam kondisi di atas rata-rata. Secara rasional, kawasan tersebut diasumsikan tidak layak untuk dihuni dan dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan, kecuali jika dilakukan upaya penanggulangan terhadap peningkatan muka laut yang memasuki kawasan daratan. Tingkat kelayakan huni direpresentasikan oleh kondisi ketinggian Jakarta, di mana wilayah dengan ketinggian kurang dari 3 m dpl dianggap tidak aman terhadap potensi muka laut pasang oleh karena memiliki potensi untuk tergenang air laut (rob). 
Faktor kedua : keamanan lahan darat dari kerusakan badan air sungai, terkait dengan kondisi Jakarta yang dilintasi oleh sejumlah sungai yang berhulu di wilayah Jawa Barat dan Banten, di mana pada saat ini aliran dari hulu seringkali melimpas ke kawasan tepi sungai. Selain itu, sempadan sungai pada hakekatnya merupakan areal pengaman agar tidak terjadi kerusakan fisik pada badan sungai. Kawasan yang merupakan sempadan sungai diasumsikan sebagai kawasan yang tidak layak dihuni dan dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan, karena keberadaannya selain mengancam kerusakan sungai secara fisik juga berpotensi menerima dampak jika terjadi limpasan air dari badan sungai. Tingkat kelayakan huni dan pemanfaatan untuk kegiatan perkotaan direpresentasikan oleh kondisi hidrologi Jakarta, di mana kawasan selebar 20 meter di kiri dan kanan sungai dianggap tidak aman terhadap potensi banjir dan genangan. 
Faktor ketiga : keamanan lahan darat dari kerawanan genangan oleh curah hujan dan aliran permukaan, terkait dengan historis Jakarta yang mencatat kejadian banjir dan genangan secara periodik dengan lokasi, luas, dan lama genangan yang berbeda-beda pada setiap kejadian, kecuali untuk lokasi tertentu. Kejadian banjir dan genangan selain disebabkan oleh aliran yang berasal dari hulu, juga disebabkan oleh rendahnya kapasitas sungai dan saluran drainase mematuskan air karena invasi sempadan sungai oleh bangunan, beban sampah yang dibuang ke sungai, sedimentasi, gradien sungai yang rendah, serta terjadinya amblesan (land subsidence) di sebagian wilayah Jakarta Utara. Kawasan yang telah diidentifikasi mengalami amblesan tanah diasumsikan sebagai kawasan yang tidak layak huni, karena potensial mengalami genangan jika hujan turun. Tingkat kelayakan hunian dan kegiatan perkotaan direpresentasikan oleh kondisi amblesan tanah Jakarta dengan batas ≥ 50 cm selama 5 tahun yang dianggap tidak aman terhadap bencana genangan. 
Faktor keempat : kelayakan lahan untuk hunian dan kegiatan perkotaan, terkait dengan pentingnya pertimbangan kelayakan lahan untuk hunian dan kegiatan perkotaan. Kelayakan lahan untuk hunian dan kegiatan perkotaan disyaratkan tidak menyebabkan hilangnya lahan peresapan airtanah yang berfungsi menjaga keseimbangan daur hidrologis Jakarta. Wilayah bagian Selatan Jakarta diidentifikasi sebagai kawasan peresapan airtanah yang memiliki kemampuan infiltrasi yang baik, berfungsi mengurangi aliran permukaan (runoff) ke arah hilir, dan berpotensi menurunkan potensi kerawanan banjir dan genangan di Jakarta. Tingkat kelayakan huni dan pemanfaatan untuk kegiatan perkotaan direpresentasikan oleh sebaran daerah resapan airtanah, di mana daerah ini dianggap tidak layak bagi hunian. 
Untuk mengetahui batas kemampuan berbagai faktor di atas dalam mendukung kebutuhan lahan layak huni dan layak dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan di Jakarta, maka dalam kajian daya-dukung digunakan teknik tumpang-tindih (superimpose) peta-peta yang merepresentasikan kondisi ketinggian, keamanan sempadan sungai, potensi amblesan tanah, dan potensi resapan airtanah. Melalui teknik superimpose dapat dikenali batas daya-dukung lahan tersedia bagi pembangunan di Jakarta. 
Ternyata, luas kawasan layak huni dan layak untuk kegiatan perkotaan di Kota Jakarta adalah 37.703,16 Ha atau 58,53% dari luas daratan Kota Jakarta. Wilayah dengan lahan layak terluas terdapat di Kota Jakarta Timur, sedang Kota Jakarta Selatan mencatat prosentase lahan layak tertinggi. 
Dikaitkan dengan jumlah penduduk Kota Jakarta pada tahun 2009 sebesar 7.617,016 jiwa (rekapitulasi dari Kecamatan Dalam Angka untuk ke-44 kecamatan), maka kepadatan penduduk rata-rata pada lahan layak huni dan layak bagi kegiatan perkotaan di atas, mencapai 202,03 jiwa/Ha. Apalagi jika dikaitkan dengan target RTRW : 12.500.000 jiwa, maka akan diperoleh tingkat kepadatan sebesar 331,54 jiwa/Ha. Dapat disimpulkan bahwa jika pemanfaatan lahan untuk hunian dan kegiatan perkotaan di Kota Jakarta didasarkan pada daya-dukung lahan, maka kepadatan penduduk rata-rata terkategori tinggi. Untuk mencapai kondisi kepadatan ideal bagi Kota Jakarta, maka sebagaimana yang selama ini telah berjalan, lahan yang tidak layak huni juga diberdayakan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan daya-dukung lahan dan intensifikasi penggunaan lahan melalui pembangunan vertikal. Peningkatan daya-dukung lahan mensyaratkan upaya perbaikan (improvement) kondisi fisik, inovasi dan pembangunan infrastruktur, regulasi dan pengawasan, dan peran serta masyarakat. Yang menjadi masalah, upaya peningkatan daya-dukung ini tidak berjalan mulus, sehingga timbullan permasalahan perkotaan, antara lain banjir.

Share on Google Plus

About Octa Dandy Saiyar

Kelahiran Jakarta keturunan asli Bukittinggi, Sumatera Barat .
07 Oktober 1983.



    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Twitter Feed